Minggu, 05 Februari 2012

Pengemis Yahudi Buta & Nabi Muhammad SAW

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi ia lalui dengan selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?",tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Nah inilah kisah itu sobat, dari kisah di atas kita bisa mengambil hikmah, bahwa setiap perbuatan yg kurang menyenangkan yg kita dapatkan dari orang lain bukan menjadi alasan bagi kita untuk memusuhi orang tersebut, Allah SWT berfirman, secara singkatnya begini, berdakwalah kejalan tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yg baik dan lawanlah mereka yg tidak menyukaimu dengan cara yg baik pula.

sumber : Facebook Saudara Sejati

Minggu, 08 Januari 2012

Mustajabnya Doa Orangtua

Dahulu, ada orang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil bernama Juraij. Setiap hari ia menyepi di sebuah kuil peribadatannya. Suatu hari tatkala ia menunaikan shalat, ibunya datang dan memanggilnya, “Juraij, kemarilah!” Juraij kebingungan, dalam hatinya berkata, “Apakah aku harus menjawab panggilan ibu, ataukah harus meneruskan shalatku.?”

“Wahai Juraij anakku, di mana engkau?” kedua kalinya ibu Juraij memanggil. Juraij bertambah bingung, mana yang harus ia pilih. Menjawab panggilan ibu atau meneruskan shalat. Dengan suara lebih keras ibunya masih berteriak memanggil anaknya, “Di mana engkau Juraij, ke sini dulu!” Kali ini Juraij benar-benar kebingungan, antara memenuhi panggilan ibunya dan meneruskan shalat. Pada akhirnya dia memutuskan untuk memilih melanjutkan shalatnya.

Karena tidak memenuhi panggilannya, si ibu merasa tersinggung, hingga terlanjur mengutuk anaknya, “Ya Allah, janganlah Engkau memanggilnya ke haribaan-Mu kecuali setelah dia dipermalukan wanita pelacur!” Dengan perasaan kesal dan sedih sang ibu kembali ke rumah.

Suatu ketika, ada wanita berparas cantik mengadu kepada Sang Raja, “Wahai Sang Raja, aku telah melahirkan seorang anak.” Lantas Sang Raja bertanya, “Dari siapakah engkau mempunyai anak?” Wanita itu menjawab, “Dari Juraij.” Sang Raja sangat murka, dan menyuruh orang untuk menangkap Juraij, untuk di hadapkan kepadanya, dan memerintahkan agar kuilnya dihancurkan. Orang pun datang berbondong-bondong untuk menghancurkan kuil Juraij , sehingga rata dengan tanah.

Dengan berjalan kaki dan kedua tangan diikat pada leher, Juraij di hadapkan pada Sang Raja, melewati kerumunan para pelacur. Namun Juraij tampak kalem, tenang dan tersenym. Lantas Sang Raja bertanya, “Wahai Juraij, wanita ini menuduhmu telah menghamilinya. Dia mengatakan bahwa anaknya adalah anakmu.” Juraij menoleh kepada si pelacur, seraya bertanya, “Apakah benar tuduhanmu, bahwa aku telah menggaulimu?” “Ya, tentu saja benar,” jawab pelacur itu dengan tegas.

Kemudian Juraij menanyakan di mana bayi itu dan menghampirinya. Ia menekan bagian pusar perut si bayi dan bertanya, “Siapakah ayahmu, wahai anak manis?” Tiba-tiba bayi itu menjawab, “Penggembala sapi.” Semua yang hadir terperanjat menyaksikan keanehan tersebut, serta merasa sangat bersalah kepada Juraij, terutama Sang Raja. Dengan rasa menyesal Sang Raja menawarkan akan membangun kembali kuilnya dengan bahan dari emas atau perak. Tapi Juraij menolak, ia hanya meminta agar kuilnya dibangun seperti sedia kala, sewaktu belum dihancurkan.

Lantas Sang Raja memerintahkan untuk membangun kuil Juraij kembali seperti semula dan bertanya, “Mengapa kamu menerima kenyataan ini dengan tersenyum, wahai Juraij? Bahkan ketika ditonton oleh para pelacur pun kamu kelihatan tenang dan tetap menghadirkan senyuman?”

“Ketika itu aku baru sadar, bahwa do’a ibuku telah dikabulkan Allah,” jawab Juraij. Kemudian Juraij menceritakan apa yang telah terjadi atas dirinya.